Di kedalaman laut yang sunyi dan gelap, hiduplah seekor anglerfish tua. Sepanjang hidupnya, ia berenang dalam kegelapan abadi, ditemani hanya oleh cahaya redup di ujung antenanya. Namun, dalam hatinya, tersimpan rasa penasaran yang tak pernah padam—tentang cahaya besar di atas sana. Matahari, begitu arus laut membisikkan namanya.


Hari-hari berlalu, tubuhnya semakin melemah, dan cahaya kecil di antenanya mulai redup. Ia menyadari bahwa waktunya di dunia ini tak lagi lama. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang belum pernah ia berani impikan sebelumnya: berenang menuju permukaan.


Perjalanan itu panjang dan melelahkan. Kegelapan pekat yang selama ini menjadi dunianya perlahan berubah menjadi biru yang semakin terang. Sirip-sirip tuanya bergetar, hampir tak sanggup lagi mengayuh. Namun, rasa penasaran yang membara memberinya kekuatan untuk terus berenang.

Akhirnya, ia menembus permukaan laut. Untuk pertama kalinya, matanya melihat langit luas, dihiasi warna oranye keemasan. Matahari perlahan tenggelam di cakrawala, memancarkan sinar hangat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Langit terlihat seperti kanvas api yang damai dan megah—begitu berbeda dari kegelapan dunia tempatnya berasal.

Air mata mengalir dari matanya, bercampur dengan air laut yang asin. Ia terpesona, kagum, dan merasa damai. Kini, ia telah melihat cahaya yang selama ini hanya ada dalam mimpinya.

Namun, tubuhnya yang lemah tak mampu bertahan lebih lama. Nafasnya semakin melemah, dan perlahan ia mulai tenggelam kembali ke dalam kedalaman laut yang sunyi. Cahaya kecil di ujung antenanya meredup, lalu padam selamanya.

Ia kembali ke kegelapan, namun kali ini dengan hati yang penuh kehangatan. Ia telah melihat cahaya yang ia cari, dan dengan itu, ia pergi dengan damai.

Ini cuma ceria Fiksi, ini bukan cerita nyata. Ini adalah sebuah cerita fiksi yang menggambarkan perjalanan seekor anglerfish tua yang ingin melihat matahari sebelum hidupnya berakhir. Namun, cerita ini tetap memiliki unsur realitas ilmiah:

Anglerfish memang hidup di laut dalam yang gelap.

Mereka memiliki antena bercahaya (bioluminesensi) untuk menarik mangsa.

Tekanan air yang sangat tinggi di laut dalam membuat ikan seperti anglerfish tidak bisa bertahan lama di permukaan.

Jadi, meskipun emosional dan puitis, secara ilmiah ikan angler kemungkinan besar tidak bisa berenang sampai ke permukaan dan bertahan hidup. Cerita ini lebih sebagai metafora tentang perjuangan, harapan, dan pencarian sesuatu yang tidak pernah tercapai sebelumnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Explore More

Obrolan #2: Leher Susah Buat Nengok, Ini Kenapa? – Terapis Pak Yuli Purwanto Jelaskan Solusinya!

Obrolan #2 Leher Susah Buat Nengok, Ini Kenapa - Terapis Pak Yuli Purwanto Jelaskan Solusinya!

Published on Feb 23, 2023 | Channel: Imam Suharjo Apakah kamu pernah mengalami rasa sakit pada leher yang membuatnya sulit untuk menoleh? Sensasi kaku atau tertarik saat berusaha menggerakkan leher

Perjalanan dari Jogja ke Bali via Tol

Video Perjalanan naik bus Wsiata ke Bali

Perjalana ke Bali dari Jogja bisa di tempuh dengan berbagai cara, paling cepat menggunakan pesawat namun mahal apalagi jika rombongan. Bisa pakai bus lewat Tol atau lewat jalan biasa, atau

Behind Jepri Ali Saipul’s Success: A Life Journey Full of Challenges Jepri Ali Saipul’s Struggle: From an Ordinary Child to the First Graduate in the Family

Jepri pursued the International Graduate Program of Education and Human Development (IGPEHD)

Foto : https://web.facebook.com/jepriali.saiful.3/photos Jepri Ali Saipul is an English Education lecturer at Muhammadiyah University of Surabaya (UM Surabaya), who has recently completed his PhD studies at the College of Social